Pengguna APM di Jawa Tengah dan DIY

Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama. Upaya kesehatan diberikan dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya diwilayah kerjanya masing-masing (Permenkes, 2014). Puskesmas memiliki peran sebagai garda terdepan dalm pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pelayanan kesehatan ini dimulai dari lingkup terkecil yakni pemerintahan desa. Sehingga tak heran jika puskesmas merupakan gerbang pertama yang diakses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Meski masyarakat sering gelisah akan bayang-bayang antrian yang mengular untuk mengakses pelayanan di puskesmas.

Fenomena saat ini semenjak adanya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan membuat Puskesmas kewalahan dalam mengatasi penumpukan antrian pasien (Larasati, 20013; Rakhmawati & Rustiyanto,  2016). Penumpukan antrian ini berdampak pada timbulnya ketidaknyamanan pada pelayanan (Anshsory, 2013) di Puskesmas tersebut. Antrian sendiri bisa diartikan sebagai garis tunggal yang menunggu atau terbentuk di depan fasilitas pelayanan. Antrian terjadi karena frekuensi waktu orang (pasien) atau benda yang tiba pada suatu fasilitas pelayanan lebih cepat daripada orang (pasien) atau benda yang sedang mendapat pelayanan (Russel & Taylor, 2005). Referensi lain juga mengartikan antrian sebagai sebuah aktifitas dimana customer menunggu untuk memperoleh layanan (kakiay, 2004).

Beberapa alasan mengapa di fasilitas kesehatan khususnya puskesmas tidak bisa terhindar dari antian karena sejumlah faktor. Faktor ini antara lain; (1) sistem pendaftaran yang rumit, (2) Jumlah tenaga kesehatan berbanding terbalik dengan jumlah pasien (tenaga kesehatan < pasien). Oleh karena itu “penumpukan” pasien terjadi karena harus menunggu pasien lain yang sedang dilayani. Tak hanya jumlah dokter atau perawat yang kurang, jumlah tenaga paramedis di bagian administrasi juga sering belum mampu memberikan pelayanan secara maksimal kepada volume pasien yang terlalu banyak.

Lalu bagaimana solusi dari permasalahan antrian di puskesmas tersebut? CV Kinaryatama Raharja menjawab tantangan tersebut dengan menghadirkan mesin Antrian Pasien Mandiri (APM). APM sendiri adalah mesin antrian multimedia yang mudah digunakan (touchscreen), menggunakan database PHPMySQL sehingga mudah dalam maintenance, serta multiuser. Beberapa fitur lain yang sangat membantu mengatasi “penumpukan pasien” tetapi juga mengikuti kebijakan BPJS adalah fitur bridging dengan Mobile JKN BPJS. Fitur bridging M-JKN memungkinkan pasien mendaftar pada H-1 pelayanan menggunakan gadjet masing-masing untuk mendaftar di poli pelayanan kesehatan yang diinginkan. Pendaftaran pasien ini kemudian diteruskan ke server M-JKN BPJS untuk memproses pendaftaran pasien tersebut agar terdaftar dalam server BPJS. Setelah itu data dari server M-JKN akan diteruskan ke mesin APM yang ada di puskesmas. Setelah pada tahap ini pendaftaran pasien akan langsung masuk ke sistem informasi manajemen puskesmas (SIMPUS) yang menghasilkan nomor antrian untuk pasien. Nomor pasien ini kemudian akan dikembalikan ke pasien berupa softfile melalui aplikasi M-JKN. Pada saat pasien ingin mengakses pelayanan kesehatan di puskesmas yang ingin dituju, pasien tinggal menunjukkan softfile nomor antrian yang sudah diterima kepada petugas administrasi. Selain itu, melalui aplikasi M-JKN pasien juga bisa ikut memonitoring volume antrian di puskesmas. Sehingga pasien akan terbantu untuk memutuskan kapan berkunjung ke puskesmas di saat yang tepat.

sumber:

  • Permenkes, Republik Indonesia. 2014. Peraturan mentri kesehatan No 75 Th 2014 tentang Puskesmas.
  • Larasati, N. (2013). Kualitas Pelayanan Program Jaminan Kesehatan Nasional Dalam Rangka Menjamin Perlindungan Kesehatan Bagi Peserta Bpjs Di Rsud Dr. M. Soewandhie Kota Surabaya. Sumber, 75(44).
  • Rakhmawati, F., & Rustiyanto, E. (2016). Analisis Kebutuhan Petugas Rekam Medis Berdasarkan Beban Kerja di Instalasi Rekam Medis RS Aisyiah Muntilan. Jurnal Kesehatan Vokasional, 1(1).
  • Russell, R. S., & Taylor, B. W. (2005). Operations Management third edition Prentice Hall. Upper Saddle River, New Jersey.
  • Kakiay, thomas T. 2004. Dasar Teori Antrian untuk Kehidupan Nyata. Yogyakarta: Andi Offset.